Kampung Kemasan

 

Rumah-rumah tinggal di Kampung Kemasan berarsitektur peranakan atau campuran. Ada 21 rumah di kampung ini. Enam belas di antaranya belum mengalami renovasi. Sedangkan, 5 rumah lainnya telah mengalami renovasi. Dari 14 rumah yang masih bertahan dengan arsitektur kunonya, maka 11 rumah telah berumur 100 tahun lebih. Sedangkan sisanya berumur di atas 75. Di Kampung Keemasan, ada satu rumah yang arsitekturnya paling menonjol, yaitu rumah tinggal milik keluarga Asnar bin H. Oemar (almarhum) yang telah diwariskan kepada H. Oemar Zainudin. Dulunya, rumah itu digunakan sebagai tempat tinggal dan penangkaran burung walet. Karena rumah itu dibangun sekitar tahun 1898 atau sekitar abad XIX M, maka rumah itu mengadopsi gaya arsitektur Indische Empire. Yaitu gaya arsitektur kolonial (Belanda) yang disesuaikan dengan gaya hidup di Hindia Belanda. Gaya arsitektur itu bisa dilihat pada bentuk teras rumah yang memiliki pilar-pilar dengan atap seperti pendopo. Hal itu menjadi bukti tentang adanya penyesuaian antara gaya arsitektur kolonial (Belanda) dengan iklim tropis di Hindia Belanda. Selain itu, gaya arsitektur Indische Empire juga terlihat pada bentuk ragam hias di bagian pagar. Menurut filosofi Eropa, bentuk itu diartikan seperti salib. Namun menurut arsitektur Jawa, bentuk itu diartikan sebagai trisula.

Gaya arsitektur lain yang diadopsi oleh bangunan rumah di Kampung Kemasan adalah arsitektur China. Itu bisa dilihat pada elemen-elemen struktural yang terbuka (yang kadang-kadang disertai dengan ornamen ragam hias), dan juga penggunaan warnanya. Elemen-elemen struktural yang terbuka bisa dilihat pada struktur penyangga atap kayu yang memiliki banyak ukiran ragam hias. Warna pada arsitektur China mempunyai pilihan tersendiri. Meski banyak warna pilihan, tapi warna merah dan kuning keemasan paling banyak dipakai dalam arsitektur China. Warna merah dipakai di dekorasi interior, dan umumnya untuk mewarnai pilar. Di masyarakat China, warna merah memiliki simbol keberanian dan kecerahan. Sebaliknya, arsitekur Jawa dan Timur Tengah hanya sedikit mempengaruhi bentuk maupun arsitektur rumah tinggal milik keluarga Asnar bin H. Oemar. Untuk pengaruh arsitektur Jawa, bisa dilihat pada ragam hias seni ukir yang ada di rumah tersebut. Sedangkan untuk pengaruh arsitektur Timur Tengah bisa dilihat pada bentuk jendela yang memiliki unsur geometri. Selain itu, adanya karakter dinding yang bertekstur  plester kasar, dinding batuan,  maka ornamen  susunan batuan merupakan gaya arsitektur Timur Tengah. Lalu hiasan flora yang ada pada bangunan rumah juga menjadi ornamen penting pada arsitektur Timur Tengah.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *